Soal!
1. Untuk bahasa asing dalam sebuah buku cerita atau novel dan majalah lainya apakah harus di tulis miring? Jelaskan alasannya!
2. Gabungan kata dapat menimbulkan kesalahan pengertian, bagaimana cara agar gabungan kata tersebut tidak disalahartikan? Berikan contohnya!
3. Menurut kalian, apakah akronim dapat memperkaya atau malah merusak bahasa Indonesia?
Jawaban
1. miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
• Upacara peusijuek (tepung tawar) menarik perhatian wisatawan asing yang berkunjung ke Aceh.
• Weltanschauung bermakna 'pandangan dunia'.
Catatan:
- Nama diri, seperti nama orang, lembaga, atau organisasi, dalam bahasa asing atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring.
- Dalam naskah tulisan tangan atau mesin tik (bukan komputer), bagian yang akan dicetak miring ditandai dengan garis bawah.
- Kalimat atau teks berbahasa asing atau berbahasa daerah yang dikutip secara langsung dalam teks berbahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring.
Catatan:
• PUEBI 2015 menggunakan frasa bahasa daerah atau bahasa asing, sedangkan pedoman ejaan sebelumnya memakai frasa bukan bahasa Indonesia.
• PUEBI 2015 menambahkan catatan bahwa nama diri dalam bahasa asing atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring.
2. Gabungan kata yang dapat menimbulkan salah pengertian, sehingga perlu ditambah dengan tanda hubung (-) di antara unsurnya.
Contoh 1:
Andi ke toko buku membeli buku sejarah-baru.
Kata ‘buku sejarah-baru’ bukanlah merujuk pada buku sejarah yang baru, melainkan buku yang isinya membahas tentang sejarah baru.
Contoh 2:
Anak-istri pejabat itu baru saja datang beberapa menit yang lalu.
Kata ‘anak-istri pejabat’ merujuk pada artian anak dan istri dari pejabat tersebut.
3. Menurut saya, Akronim dapat merusak dan memperkaya bahasa indonesia
Akronim dapat memperkaya bahasa indonesia apabila dilakukan dengan baik dan berhati hati dengan tetap memperhatikan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi, jika hal ini dilakukan maka akronim dapat memperkaya bahasa Indonesia,
Namun, Akronim juga dapat merusak bahasa indonesia jika pembuatannya hanya dilakukan dengan berorientasi pada penyingkatan, bukan penyampaian pesan yg tepat dan baik kepada masyarakat, jika demikian hal nya bahasa Indonesia akan gagal menjalankan fungsinya karna pesannya tidak tersampaikan dengan baik.