SOAL!
1. Bagaimana jika tanda seru dan tanda tanya digunakan secara tidak tepat?
2. Sebutkan fungsi dari titik koma, tanda pisah, dan tanda kurung!
3. Jelaskan unsur serapan bahasa indonesia berdasarkan taraf integrasinya!
Jawaban
1. Jika penggunaan tanda seru dan tanda tanya digunakan secara tidak tepat maka akan ada kesalahan dalam mengartikan kalimatnya, dan makna penyampaian nya pun akan berbeda, sebagai contoh :
Ibu pergi ke pasar. (Memiliki arti yaitu memberitahu kepada si pembaca bahwa ibu pergi ke pasar)
Ibu pergi ke pasar! (Memiliki arti yaitu memberi perintah kepada Ibu untuk pergi ke pasar)
Ibu pergi ke pasar? (Kalimat ini memiliki arti yaitu bertanya apakah ibu pergi ke pasar?)
Jadi penggunaan tanda seru dan tanda tanya yang salah dapat memengaruhi arti kalimatnya juga.
2. - Penggunaan Tanda Baca Titik Koma (;)
1) Memisahkan Bagian Kalimat
Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh:
- Malam semakin larut; tugasnya tak kunjung selesai.
2) Memisahkan Kalimat Setara
Tanda ini bisa dipakai sebagai pengganti kata hubung untuk memisahkan kalimat yang masih setara dalam kalimat majemuk.
Contoh:
Ibu memasak di dapur; Nanda menonton TV di ruang tamu.
Penggunaan Tanda Baca Pisah (—)
1) Membatasi Penyisipan Kata
Jika ada pembatasan penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan khusus di luar konteks kalimat, maka digunakan tanda pisah.
Contoh:
Kesuksesan itu—saya yakin akan tercapai—harus diperjuangkan oleh dirinya sendiri.
2) Tanda Pisah Dua Bilangan
Tanda pisah dipakai juga di antara dua bilangan/tanggal yang menunjukkan arti “sampai”
Contoh:
- 2019 – 2020
- Medan, 13 – 20 Januari 2015
- Bandung – Surabaya
3) Penegasan Keterangan Aposisi
Tanda pisah bisa dipakai untuk penegasan keterangan aposisi (keterangan lain) sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Contoh:
Anggota komunitas itu – Shabrina, Devi, dan Nanda – sudah memberi dampak positif yang cukup besar bagi lingkungan sekitarnya.
Penggunaan Tanda Baca Kurung (())
1) Mengapit Angka
Kamu bisa memakai tanda baca kurung untuk digunakan mengapit angka atau huruf yang merinci suatu urutan.
Contoh:
Harta kekayaannya meliputi (a) logam mulia, (b) properti, dan (c) saham.
2) Mengapit Huruf
Tanda kurung dipakai mengapit huruf atau kata yang kemunculannya di kalimat dapat dihilangkan.
Contoh:
Pendaki amatiran tidak diperkenankan untuk mendaki sampai (puncak) Mahameru.
3) Mengapit Keterangan
Kamu juga bisa menggunakan tanda kurung untuk mengapit keterangan/penjelasan yang bukan bagian pokok dari sebuah kalimat.
- Bukti tersebut (lihat halaman 109) mendukung pernyataannya bahwa dalam melakukan teknik negosiasi harus dilakukan secara serius.
4. Tambahan Keterangan
Untuk menjelaskan keterangan yang berupa abreviasi, digunakan pula tanda kurung.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu RI) telah mengeluarkan kebijakan penggunaan meterai 10000 dalam dokumen berharga.
3. Berdasarkan taraf integrasi tersebut, unsur serapan bahasa Indonesia dibagi menjadi tiga, yaitu:
- Unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia.
Serapan semacam ini baik dari segi bentuk kata, maupun pelafalannya masih menggunakan bahasa asing.
Secara konteks serapan jenis ini sudah masuk dalam kebahasaan Indonesia.
Contoh: cum laude, off side, reshuffle, goceng, shuttle cock, gocap, de facto, dan sebagainya.
- Unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.
Serapan ini sudah mendapat pengaruh kuat dari bahasa Indonesia. Sehingga ejaannya diubah mengikuti pelafalan dalam bahasa Indonesia.
Namun bentuk asli dari bahasa asing ini tidak sepenuhnya hilang. Perubahan ejaan hanya terjadi pada suku kata tertentu.
Contoh: octaaf menjadi oktaf, biology menjadi biologi, television menjadi televisi, dan sejenisnya.
- Unsur yang sudah lama terserap dalam bahasa Indonesia tidak perlu lagi diubah ejaannya.
Serapan ini muncul karena intensitas pemakaian bahasa asing tertentu cukup tinggi.
Karena sering digunakan, masyarakat terbiasa mendengar kata tersebut, maka ejaannya pun terpengaruh sepenuhnya dengan bahasa Inonesia. Serapan janis ini erat kaitannya dengan
epistimologi atau asal usul kata.
Contoh: pedal, otonomi, sadel, dongkrak, oligarki, politik, dan lainnya.